Kumpulan Cerpen, Novel, Puisi, Komunitas Penulis, Lomba Menulis Cerpen dan Novel

Darahku dan Cintamu #2

Lanjutan dari cerita Darahku dan Cintamu....

HARI pertama dengan setengah ikhlas, Brian menjemput Chika dengan sepeda motor buntutnya. Dia terlihat bahagia di atas penderitaan Brian, gadis imut aneh yang pernah dia temui.
“Biar aku yang menyetir mobilnya,” kata Brian.
“Maaf kakak, Chika mau naik motor kakak saja,” pinta Chika dengan lembut manja.
Lagi dan lagi permintaan yang aneh, dia tidak memilih pergi dengan mobil mewahnya dan sekarang memilih naik motor butut milik Brian. Motor yang Brian pastikan dia akan kepanasan dan terkena debu. Sungguh Brian tak pernah bisa menebak jalan fikiran gadis ini.
Sepanjang perjalanan Chika berbicara dari saat dia kecil sampai dia duduk di atas motor Brian. Chika berkicau tanpa lelah seperti burung beo yang kegirangan dan Brian hanya menjadi pendengar yang baik, membuat Brian merasa bosan menelusuri jalan menuju TPU jeruk purut. Brian merasa ada yang aneh dalam pikiran Chika, ia mengajak Brian ke dalam pemakaman. Entah siapa yang ia kunjungin. Namun, Brian melihat raut wajah Chika yang begitu bahagia saat tepat berada depan sebuah makam yang cantik. Dia mengucapkan salam dan mencium batu nisan bertuliskan nama Yudha, wafat 31 Januari 2011. Brian tak tahu makam siapa yang dikunjungi gadis aneh ini. Brian tak berniat bertanya padanya. Dia melihat Chika larut dalam doa dan mata yang sembab—sangat jelas—kalau yang terbaring di atas batu nisan ini adalah orang yang sangat ia sayangi. Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan, Brian seperti pengawal yang bodoh menemani seorang princess. Hanya bisa mendengar semua perintah dan mengiyakan permintaan itu, demi sebuah kenangan konyol untuk cincin yang tak mampu Brian pakaikan ke jari manis Tania.
Brian memarkirkan kembali motornya pada pusat perbelanjaan. Chika menarik tangan Brian, tanda ia tak sabar untuk berbelanja ria. Nafsu seorang wanita saat dihadapkan pada tempat yang namanya shopping, itulah surga dunia wanita. Chika memasuki brand pakaian pria yang mahal. Tak heran karena dia adalah seorang anak orang kaya, nominal harga bukan masalah buatnya. Namun yang mengherankan semua belanjaannya hanya untuk Brian, semakin Brian menolak pemberiaannya justru membuat Chika semakin gila berbelanja. Sungguh wanita aneh yang Tuhan hadapkan pada Brian. Chika merubah style-Brian dalam jentikan jarinya, memotong rambut Brian dan membentuknya seperti model boyband Korea. Untuk pertama kalinya rambut Brian tersentuh perawatan salon, dari ujung rambut sampai ke ujung jari telah dipoles sesuai keinginan Chika. Dia hanya menyuruh Brian diam. Saat Brian menemukan dirinya dengan penampilan baru bagai model dadakan, Chika tersenyum manis dan sangat manis. Brian nampak kikuk saat mendengar Chika berkata, “Lumayan ganteng juga.” Hatinya seperti kembang kempis. Chika memang sangat aneh dan sulit Brian menebaknya. Chika seperti gadis imut yang selalu berbalut rasa ceria, tersenyum, dan senang seakan ia tak pernah dihadapkan dengan masalah yang rumit.

***

Tak terasa dua minggu sudah mereka melewati hari-hari yang menyenangkan. Waktu yang singkat namun tanpa sengaja Chika—secara perlahan—berhasil membuat Brian lupa akan cincin buat Tania. Rasa sakit di hatinya mulai terobati. Chika memberi warna baru dalam perjalanan hidup Brian. Warna yang begitu cerah! Malam ini Brian kembali kerumah Chika. Diruang tamu, Brian meminta kembali cincin kenangannya sebagai upah telah menjalani permintaan Chika selama dua minggu. Namun dalam hati, Brian masih ingin bersamanya. Bukan karena perjanjian mereka, namun ada hal yang tak Brian mengerti dari mana asalnya, Brian selalu ingin bersamanya.
“Kakak Brian!”
Chika menyapa Brian dengan senyuman khasnya, begitu manis. Dia duduk disamping Brian dan memegang kotak merah kecil. Brian tahu, itu adalah cincin kenangannya. Tiba-tiba Chika menyandarkan kepalanya pada pundak Brian, membuat darah Brian seperti mengalir begitu deras. Jantung Brian berdetak begitu cepat. Chika membuat Brian panas dingin.
“Apa setelah ini kakak akan pergi meninggalkan aku?” tanya Chika tiba-tiba.
Pertanyaan sederhana namun rasanya sangat sulit untuk Brian jawab.
“Maksud Chika apa?“ tanya Brian pura-pura bodoh.
“Aku ingin kakak Brian tetap disini, di samping Chika, seperti ini. Aku sayang sama kakak Brian, perasaan yang aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba muncul.”
Chika membuat Brian seperti menemukan cinta baru—muncul dengan sendirinya—tanpa pernah mereka sadari. Ia datang disaat Brian terluka, memeluk luka itu dengan kapas cintanya dan perlahan luka itu kering tanpa meninggalkan bekas.
“Aku juga sayang sama Chika. Kakak akan selalu ada buat kamu,” janji Brian padanya.
Bersama Chika, Brian melewati hari yang menyenangkan. Dengannya waktu begitu cepat berlalu melarutkan mereka dalam cumbuan panah asmara. Membuat hati mereka percaya kalau dunia begitu indah dengan cinta. Dengan berjalannya waktu Brian mengenal dengan baik sifat Chika yang mulanya aneh namun sebenarnya dia gadis yang cerdas, kuat dan berani mengambil tantangan hidup. Ia mengajarkan Brian jangan pernah puas dengan hasil yang diperoleh, jangan berhenti pada comfort zone, berjalan menapaki hidup selangkah demi selangkah, walau lambat namun pasti mengantar pada zona yang ia beri nama SUCCES. Kerja keras, energi dan pandai melihat peluang bisnis itu menurun pada Chika dari ayahnya yang terbukti telah menjadi pengusaha sukses. Chika meminta Brian melakukan pinjaman uang ke bank dengan jaminan SK PNS yang Brian miliki untuk membuka usaha kecil. Awalnya Brian sangat ragu karena dalam dirinya tak memiliki jiwa seorang pembisnis namun sekali lagi Chika mematahkan argumen Brian. “Bukan tak memiliki namun tak ingin memiliki, katakan BISA untuk semua yang kau harapkan dalam doa dan usaha, sesulit apapun itu maka TUHAN akan membantumu memuluskan harapanmu dan kau akan memiliki apa yang kau bilang tak ada dalam jiwamu.” Chika selalu membuat Brian kagum akan cara berfikirnya yang fantastic.
Brian membuka butik dengan menyewa ruko yang mereka dekorasi menjadi butik sederhana namun tetap cantik. Butik yang diberi nama BRINKA. Nama itu adalah penggalan nama Brian dan Chika. Brian melihat Chika sangat bersemangat. Chika yang memilih semua pakaian yang dijual. Dia juga yang mencari client dan supplier buat butik mereka. Terkadang, mereka harus ke luar kota untuk berburu fashion terbaru.
Saat Brian bertanya pada Chika, “Apa kau lelah?”
Ia hanya tersenyum dan menjawab, “Kalau ada kakak disampingku lelah itu hilang.”
Pelan-pelan butik milik Brian berkembang ditangan Chika. Brian mulai menggambil lima orang pegawai untuk membantu mereka karena order-an pun datang tidak hanya dari Jakarta namun dari luar Jakarta. Seperti kata Chika, perlahan namun pasti butik milik Brian semakin mengalami kemajuan dan kali ini Chika menyarankan membuka toko sepatu yang mereka desain dan produksi sendiri. Idenya seperti berlian yang berkilau. Bersama Chika, Brian mulai bisnis ini dari nol sampai membuka cabang di luar Jakarta, memiliki beberapa client ph (production house), dan membuka toko sepatu dengan brand BRINKA. Chika-lah pintu Brian menuju kesuksesan.



Eiiiittttttt...ceritanya belum selesai sampai di situ lho!
Tentang Chika kedapatan pingsan mendadak dan harus berpisah dengan Brian.
Tentang Tania (mantan kekasih Brian) tiba-tiba datang di saat Brian sudah bersama Chika. Penasaran, kan??? Hehehe.. Nantikan kelanjutannya dipostingan berikutnya??? Hehehe.. Nantikan kelanjutannya dipostingan berikutnya...
Tag : Cerpen, Cinta
0 Komentar untuk "Darahku dan Cintamu #2"

Untuk diperhatikan!!!

1. Dalam berkomentar gunakan bahasa yang sopan
2. Dilarang menyisipkan link aktif
3. Komentar yang mengandung unsur kekerasan, porno, dan manyinggung SARA akan dihapus

Back To Top